Rabu, 31 Mei 2017

sejarah pemikiran ekonomi pada masa perjuangan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Indonesia memiliki beberapa pemikir yang ikut berperan serta dalam memajukan negara Indonesia. Para pemikir tersebut merupakan ahli di berbagai bidang. Indonesia seperti kebanyakan negara-negara di dunia, mempunyai berbagai permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas sebuah sistem bernegara. Terutama permasalahan mengenai ekonomi dalam pandangan islam. Karena negara indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk islam terbesar di dunia. Dan semua permasalahan ini mau tidak mau membuat para tokoh ekonomi islam Indonesia turut campur, paling tidak sebagai seorang pendidik yang mengajarkan ilmu-ilmu ekonomi islam pada generasi muda. Sehingga  diharapkan, generasi muda Indonesia mampu menangani berbagai permasalahan ekonomi yang ada. Para tokoh ekonomi islam Indonesia tersebut rata-rata memang memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi di Indonesiasejak kemerdekaan indonesia sampai sekarang.

B.     Rumuan Masalah
1.      Hal apakah ekonomi syariah yang ditandai semakin meningkatnya?
2.      Sebutkan dan jelaskan faktor pendorong Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia?
3.      Apa pandangan Moh Hatta dalam ekonomi islam?






BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia
Sejarah pemikiran dan aktivits ekonomi Islam Indonesia tidak lepas dari sejarah masuknya Islam di negeri ini. Secara historis telah berakar sejak periode kemerdekaan. Namun mencuatnya kebutuhan akan lembaga perbankan islami di tengah praktek ekonomi kontemporer tidak dapat dilepaskan dari perkembangan pemikiran dan gagasan tentang konsep ekonomi islam. Fenomena tersebut ditandai dengan berdirinya perkumpulan pendukung ekonomi islam (PPEI) di Jakarta pada tanggal 23 November 1955. Oleh karena itu, nampak kepada kita adalah upaya dan gerakan yang dominan untuk penegakan syariah Islam dalam kontek kehidupan politik dan hukum. Walaupun pernah lahir Piagam Jakarta dan gagal dilaksanakan, akan tetapi upaya Islamisasi dalam pengertian penegakan syariat Islam di Indonesia tak pernah surut.
 Pemikiran dan aktivitas ekonomi syariah di Indonesia akhir abad ke-20 lebih diorientasikan pada pendirian lembaga keuangan dan perbankan syariah. Salah satu pilihanya adalah gerakan koperasi yang dianggap sejalan atau tidak bertentangan dengan syariah Islam. Oleh karena itu, gerakan koperasi mendapat sambutan baik oleh kalangan santri dan pondok pesantren. Gagasan dan pemikiran ini baru belakangan dapat diwujudkan, yakni berawal dari berdirinya Bank Muammalat Indonesia (BMI) yang dioperasikan sejak tanggal 1 Mei 1992.
Sepanjang tahun 1990 perkembangan ekonomi syariah di Indonesia relatif lambat. Tetapi pada tahun 2000 terjadi gelombang perkembangan yang sangat pesat ditinjan dari sisi pertumbuhan asset, omzet dan jaringa kantor lembaga perbankan dan keuangan syariah. Di sektor keuangan dan perbankan sendiri selama periode tahun 2012 menuju 2013, perbankan syariah Indonesia  mengalami  tantangan yang cukup berat  dengan mulai dirasakannya  dampak  melambatnya pertumbuhan perekononomian dunia yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak setinggi yang diharapkan, walaupun Indonesia termasuk negara yang masih mengalami pertumbuhan ekonomi  yang stabil di dunia.
Perilaku bisnis dari para pengusaha Muslimpun termasuk dalam sasaran gerakan ekonomi syariah di Indonesia. Walau terlihat agak lambat namun perilaku kegiatan ekonomi semakin berkembang. Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia tidak terlepas dari beberapa faktor pendorong. Secara sederhana, faktor-faktor itu dkelompokkan menjadi faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal adalah penyebab yang datang dari luar negeri, berupa perkembangan ekonomi syariah di negara-negara lain, baik yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun tidak. Negara-negara tersebut telah mengembangkan ekonomi syariah setelah timbulnya kesadaran tentang perlunya identitas baru dalam perekonomian mereka. Sedangkan faktor internal antara lain adalah kenyataan bahwa Indonesia ditakdirkan menjadi negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Fakta ini menimbulkan kesadaran di sebagian cendikiawan dan praktisi ekonomi tentang perlunya suatu ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dijalankan oleh masyarakat Muslim di Indonesia.

B.     Biografi dan Pemikiran Moh. Hatta
1.      Biografi Moh. Hatta
Hatta lahir dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang. Baru pada tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Ia menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan di Nederland Handelshogeschool. Di Belanda, ia kemudian tinggal selama 11 tahun. Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
2.     Pemikiran Moh Hatta
Pada aspek filosofis dan teologis, Hatta memandang bahwa perilaku ekonomi manusia harus menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah) dan kemanusiaan (khalifatullah fil ardh) dengan mengaplikasikan nilai-nilai dasar keadilan, persaudaraan dan kebersamaan ke dalam kehidupan ekonomi yang mereka jalankan. Arah pemikiran Hatta adalah, bagaimana menegakkan dan menciptakan suatu masyarakat yang baik dan sejahtera. Untuk mencapai arah itu, menurut Hatta, beberapa persyaratan yang harus dipenuhi: pertama, harus ada jiwa dan semangat tolong menolong antara anggota dan warga masyarakat. Kedua, negara (politik) harus bersifat aktif dan tidak hanya menyerahkan sepenuhnya persoalan ekonomi kepada mekanisme pasar yaitu swasta dan koperasi. Hatta menganggap bahwa untuk membangun sistem ekonomi dengan beranjak dari sistem keyakinan agama yang dianutnya yaitu sistem keyakinan Islam. Kendati dalam kaitan ini Hatta tidak menggunakan simbol-simbol keislaman, baik dalam tataran terminologi maupun kelembagaannya. Dalam pandangan Hatta, alam semesta ini bukanlah milik manusia, tetapi milik absolut Tuhan. Manusia sebagai khalifahnya hanya dititipi dan diberi amanat untuk mengelola dan mengambil manfaat darinya. Pemikiran ekonomi Hatta itu jika dilihat dari perspektif  Islam secara substansial jelas dapat dikatakan paralel dan kompatibel dengan ajaran Islam.

C.     Biografi dan Pemikiran H. Agus Salim
1.      Biografi H. Agus Salim
Agus Salim lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Dia menjadi anak keempat Sultan Moehammad Salim, seorang jaksa di sebuah pengadilan negeri. Karena kedudukan ayahnya Agus Salim bisa belajar di sekolah-sekolah Belanda dengan lancar, selain karena dia anak yang cerdas. Dalam usia muda, dia telah menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Pada 1903 dia lulus HBS (Hogere Burger School) pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota, yakni Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus Salim berharap pemerintah mau mengabulkan permohonan beasiswanya untuk melanjutkan sekolah kedokteran di Belanda. Tapi, permohonan itu ternyata ditolak. Belakangan, Agus Salim memilih berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat Belanda di kota itu antara 1906-1911. Sepulang dari Jedah, dia mendirikan sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche School), dan kemudian masuk dunia pergerakan nasional. Karir politik Agus Salim berawal di SI, bergabung dengan HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 1915.
Agus Salim pernah menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada akhir kekuasaan Jepang. Ketika Indonesia merdeka, dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Kepiawaiannya berdiplomasi membuat dia dipercaya sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah pengakuan kedaulatan Agus Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri. Dengan badannya yang kecil, di kalangan diplomatik Agus Salim dikenal dengan julukan The Grand Old Man. Dia berpindah-pindah rumah kontrakan ketika di Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Di rumah sederhana itulah dia menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun.
2.      Pemikiran Haji Agus Salim
Haji Agus Salim menolak paham Kapitalis. Haji Agus Salim menawarkan sebuah alternatif bagi persoalan ini yang diharapkan sebagai pengganti sistem tersebut, yakni dengan sebuah sistem persaudaraan atau kebersamaan yang mengajarkan bahwa semua pihak akan ikut menikmati kebahagiaan. Haji Agus Salim menegaskan bahwa tujuan Islam adalah persamaan manusia, keadilan yang sempurna dan ikhtiar serta usaha bersama untuk meraih kebajikan bersama. Dapat cermati pula bahwa sama rata dan sama rasa menurut Haji Agus Salim adalah suatu konsep persamaan derajat dari Tuhan, berbeda dengan sama rata-sama rasa yang digagas kaum komunis yang atheis.

D.    Biografi dan Pemikiran Tjokroaminoto
1.      Biografi Tjokroaminoto
Ia di lahirkan dengan nama Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto yang dikenal sebagai Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto (lahir di ponorogo, 16 Agustus 1883). Terlahir dari perpaduan keluarga priyayi yang religious. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara. Kakeknya, RM Adipati Tjokronegoro adalah seorang bupati di ponorogo, jawa timur, sedangkan ayahnya, Raden Mas Tjokroamiseno adalah wedana distrik kleco, madiun. Ia secara formal tak pernah nyantri, sekolah ditempuhnya dengan system pendidikan barat. Karena itu, ia menguasai bahasa inggris dan belanda. Pendidikan dasarnya ditempuh di madiun, disekolah belanda. Kemudian pendidikan lanjutnya ia tempuh di OSVIA (opleiding school voor inlandsche ambtenaren “sekolah pendidikan untuk pegawai pribumi”) di magelang (1902). Sambil bekerja, Tjokroaminoto masih menyempatkan diri untuk mengikuti sekolah lanjutan di sore hari, yaitu di BAS (Burgerlijke Avond School). Sesudah menyelesaikan pendidikannya, HOS tjokroaminoto mendapat pekerjaan pada sebuah pabrik gula (1907-1912) dan menulis di harian bintang surabaya. Selanjutnya ia bekerja pada sebuah biro teknik disurabaya. Bergabungnya HOS Tjokroaminoto pada organisasi sarekat islam. Dan peranan dia dalam menangani Sarekat Islam. Dapat disimpulkan bahwasannya Tjokroaminoto sangat pandai dan lihai dalam berpidato, dan tidak kalah hebatnya tulisannya juga sangat banyak dalam berbagai buku atau artikel, salah satunya yaitu fadjar Asia, yang banyak memuat artikel-artikel Tjokroaminoto. Adapun karya monumental Tjokroaminoto yang sampai masa tahun 1950 tidak dapat diubah adalah tafsir program asas dan program tandhim partai syarikat islam Indonesia, diterbitkan oleh badan pekerja PSII (Partai sarekat islam Indonesia) tahun 1954. Di dalamnya berisi tentang arah dan gerak perlawanan partai, antara lain:
a.       bersandarkan kepada kebersihan tauhid,
b.      bersandar kepada ilmu, dan
c.       bersandarkan kepada siyasah (politik) yang berkaitan dengan bangsa, tumpah darah, dan menyatukan negeri-negeri berpenduduk muslim (dikenal dengan pan islamisme).
Tjokroaminoto, singa podium itu, menghadap Ilahi pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta. Dan dimakamkan di TMP Pekuncen Yogyakarta.
2.      Pemikiran HOS Tjokroaminoto
Berikut ini akan kita lihat bingkai pemikiran ekonomi Tjokroaminoto yang dikemas dalam Dua Prinsip Utama mengenai Konsep Ilmu Sosial Islam. Prinsip Pertama yaitu Kedermawanan Islami. Menurut beliau kedermawanan bukanlah melakukan sedekah sebagai kebajikan semata, tetapi sedekah adalah kewajiban untuk meraih cinta Allah. Kedua, zakat sebagai dasar bagi distribusi dan pemerataan kekayaan untuk seluruh masyarakat. Ketiga, kemiskinan dunia bukanlah kehinaan, tetapi kejahatan dunia adalah kehinaan. Prinsip kedua yaitu Persaudaraan Islam. Persaudaran Islam menurut beliau harus dibangun bukan berdasarkan pada suku, warna kulit, ras, kekayaan atau lainnya, tetapi berdasar pada ketakwaan. Dua Prinsip Utama di atas hanya dapat dijalankan, seperti dijelaskan dalam buku beliau, dengan cara sinergi antara realitas sosial ekonomi masyarakat merujuk pada sirah dan jejak Muhammad saw.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kesipulan dalam penyampaian akalah kami adalah: Hal ini ditandai semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku konsumsi yang Islami, tingkat kedermawanan yang semakin meningkat ditandai oleh meningkatnya dana zakat, infaq, waqaf, dan sedekah yang berhasil dihimpun oleh badan dan lembaga pengelola dana-dana tersebut.
Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia tidak terlepas dari beberapa faktor pendorong. Secara sederhana, faktor-faktor itu dkelompokkan menjadi faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal adalah penyebab yang datang dari luar negeri, berupa perkembangan ekonomi syariah di negara-negara lain, baik yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun tidak. Sedangkan faktor internal antara lain adalah kenyataan bahwa Indonesia ditakdirkan menjadi negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.
Dalam pandangan Hatta, alam semesta ini bukanlah milik manusia, tetapi milik absolut Tuhan. Manusia sebagai khalifahnya hanya dititipi dan diberi amanat untuk mengelola dan mengambil manfaat darinya. Pemikiran ekonomi Hatta itu jika dilihat dari perspektif  Islam secara substansial jelas dapat dikatakan paralel dan kompatibel dengan ajaran Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEJARAH PERADABAN ISLAM

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Masalah Sejarah peradaban islam mempunyai dua konsep. Pertama, sejarah memberikan pem...