BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Indonesia memiliki beberapa pemikir yang ikut
berperan serta dalam memajukan negara Indonesia. Para pemikir tersebut
merupakan ahli di berbagai bidang. Indonesia seperti kebanyakan negara-negara
di dunia, mempunyai berbagai permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas
sebuah sistem bernegara. Terutama permasalahan mengenai ekonomi dalam pandangan
islam. Karena negara indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk
islam terbesar di dunia. Dan semua permasalahan ini mau tidak mau membuat para
tokoh ekonomi islam Indonesia turut campur, paling tidak sebagai seorang
pendidik yang mengajarkan ilmu-ilmu ekonomi islam pada generasi muda.
Sehingga diharapkan, generasi muda Indonesia mampu menangani berbagai permasalahan
ekonomi yang ada. Para tokoh ekonomi islam Indonesia tersebut rata-rata memang
memegang peranan penting dalam perkembangan ekonomi di Indonesiasejak
kemerdekaan indonesia sampai sekarang.
B.
Rumuan Masalah
1. Hal apakah ekonomi syariah yang ditandai semakin meningkatnya?
2. Sebutkan dan jelaskan faktor pendorong Perkembangan ekonomi syariah
di Indonesia?
3. Apa pandangan Moh Hatta dalam ekonomi islam?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Perkembangan Ekonomi Islam di Indonesia
Sejarah pemikiran dan aktivits ekonomi Islam Indonesia
tidak lepas dari sejarah masuknya Islam di negeri ini. Secara historis telah
berakar sejak periode kemerdekaan. Namun mencuatnya kebutuhan akan lembaga
perbankan islami di tengah praktek ekonomi kontemporer tidak dapat dilepaskan
dari perkembangan pemikiran dan gagasan tentang konsep ekonomi islam. Fenomena
tersebut ditandai dengan berdirinya perkumpulan pendukung ekonomi islam (PPEI)
di Jakarta pada tanggal 23 November 1955. Oleh karena itu, nampak kepada kita
adalah upaya dan gerakan yang dominan untuk penegakan syariah Islam dalam
kontek kehidupan politik dan hukum. Walaupun pernah lahir Piagam Jakarta dan
gagal dilaksanakan, akan tetapi upaya Islamisasi dalam pengertian penegakan
syariat Islam di Indonesia tak pernah surut.
Pemikiran dan aktivitas ekonomi syariah
di Indonesia akhir abad ke-20 lebih diorientasikan pada pendirian lembaga
keuangan dan perbankan syariah. Salah satu pilihanya adalah gerakan koperasi
yang dianggap sejalan atau tidak bertentangan dengan syariah Islam. Oleh karena
itu, gerakan koperasi mendapat sambutan baik oleh kalangan santri dan pondok
pesantren. Gagasan dan pemikiran ini baru belakangan dapat diwujudkan, yakni
berawal dari berdirinya Bank Muammalat Indonesia (BMI) yang dioperasikan sejak tanggal 1 Mei
1992.
Sepanjang tahun 1990 perkembangan ekonomi
syariah di Indonesia relatif lambat. Tetapi pada tahun 2000 terjadi gelombang
perkembangan yang sangat pesat ditinjan dari sisi pertumbuhan asset, omzet dan
jaringa kantor lembaga perbankan dan keuangan syariah. Di sektor keuangan dan
perbankan sendiri selama periode tahun 2012 menuju 2013, perbankan syariah
Indonesia mengalami tantangan yang cukup berat dengan mulai
dirasakannya dampak melambatnya pertumbuhan perekononomian dunia
yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak setinggi yang
diharapkan, walaupun Indonesia termasuk negara yang masih mengalami pertumbuhan
ekonomi yang stabil di dunia.
Perilaku bisnis dari para pengusaha Muslimpun
termasuk dalam sasaran gerakan ekonomi syariah di Indonesia. Walau terlihat
agak lambat namun perilaku kegiatan ekonomi semakin berkembang. Perkembangan
ekonomi syariah di Indonesia tidak terlepas dari beberapa faktor pendorong.
Secara sederhana, faktor-faktor itu dkelompokkan menjadi faktor eksternal dan
internal.
Faktor eksternal adalah penyebab yang datang
dari luar negeri, berupa perkembangan ekonomi syariah di negara-negara lain,
baik yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun tidak. Negara-negara tersebut
telah mengembangkan ekonomi syariah setelah timbulnya kesadaran tentang
perlunya identitas baru dalam perekonomian mereka. Sedangkan faktor internal
antara lain adalah kenyataan bahwa Indonesia ditakdirkan menjadi negara dengan
jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Fakta ini menimbulkan kesadaran di
sebagian cendikiawan dan praktisi ekonomi tentang perlunya suatu ekonomi yang
sesuai dengan nilai-nilai Islam dijalankan oleh masyarakat Muslim di Indonesia.
B.
Biografi dan Pemikiran Moh.
Hatta
1.
Biografi Moh. Hatta
Hatta lahir
dari keluarga ulama Minangkabau, Sumatera Barat. Ia menempuh pendidikan dasar
di Sekolah Melayu, Bukittinggi, dan pada tahun 1913-1916 melanjutkan studinya
ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia
telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun
ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang dahulu, mengingat usianya yang
masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO di Padang. Baru pada
tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins
Hendrik School. Ia menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, dan
pada tahun 1921, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu
perdagangan di Nederland Handelshogeschool. Di Belanda, ia kemudian tinggal
selama 11 tahun. Pada tangal 27 November 1956, Bung Hatta memperoleh gelar
kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam Ilmu Hukum dari
Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
2.
Pemikiran Moh Hatta
Pada aspek
filosofis dan teologis, Hatta memandang bahwa perilaku ekonomi manusia harus menjunjung
tinggi nilai-nilai ketuhanan (ilahiyah) dan kemanusiaan (khalifatullah fil
ardh) dengan mengaplikasikan nilai-nilai dasar keadilan, persaudaraan dan
kebersamaan ke dalam kehidupan ekonomi yang mereka jalankan. Arah pemikiran
Hatta adalah, bagaimana menegakkan dan menciptakan suatu masyarakat yang baik
dan sejahtera. Untuk mencapai arah itu, menurut Hatta, beberapa persyaratan
yang harus dipenuhi: pertama, harus ada jiwa dan semangat tolong menolong
antara anggota dan warga masyarakat. Kedua, negara (politik) harus bersifat
aktif dan tidak hanya menyerahkan sepenuhnya persoalan ekonomi kepada mekanisme
pasar yaitu swasta dan koperasi. Hatta
menganggap bahwa untuk membangun sistem ekonomi dengan beranjak dari sistem
keyakinan agama yang dianutnya yaitu sistem keyakinan Islam. Kendati dalam
kaitan ini Hatta tidak menggunakan simbol-simbol keislaman, baik dalam tataran
terminologi maupun kelembagaannya. Dalam pandangan Hatta, alam semesta ini
bukanlah milik manusia, tetapi milik absolut Tuhan. Manusia sebagai khalifahnya
hanya dititipi dan diberi amanat untuk mengelola dan mengambil manfaat darinya.
Pemikiran ekonomi Hatta itu jika dilihat dari perspektif Islam secara substansial jelas dapat
dikatakan paralel dan kompatibel dengan ajaran Islam.
C.
Biografi dan Pemikiran H.
Agus Salim
1. Biografi H.
Agus Salim
Agus Salim
lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Dia menjadi anak
keempat Sultan Moehammad Salim, seorang jaksa di sebuah pengadilan negeri.
Karena kedudukan ayahnya Agus Salim bisa belajar di sekolah-sekolah Belanda
dengan lancar, selain karena dia anak yang cerdas. Dalam usia muda, dia telah
menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing; Belanda, Inggris, Arab, Turki,
Perancis, Jepang, dan Jerman. Pada 1903 dia lulus HBS (Hogere Burger School)
pada usia 19 tahun dengan predikat lulusan terbaik di tiga kota, yakni
Surabaya, Semarang, dan Jakarta. Karena itu, Agus Salim berharap pemerintah mau
mengabulkan permohonan beasiswanya untuk melanjutkan sekolah kedokteran di
Belanda. Tapi, permohonan itu ternyata ditolak. Belakangan, Agus Salim memilih
berangkat ke Jedah, Arab Saudi, untuk bekerja sebagai penerjemah di konsulat
Belanda di kota itu antara 1906-1911. Sepulang dari Jedah, dia mendirikan
sekolah HIS (Hollandsche Inlandsche School), dan kemudian masuk dunia
pergerakan nasional. Karir politik Agus Salim berawal di SI, bergabung dengan
HOS Tjokroaminoto dan Abdul Muis pada 1915.
Agus Salim
pernah menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada
akhir kekuasaan Jepang. Ketika Indonesia merdeka, dia diangkat menjadi anggota
Dewan Pertimbangan Agung. Kepiawaiannya berdiplomasi membuat dia dipercaya
sebagai Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I dan II serta menjadi
Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta. Sesudah pengakuan kedaulatan Agus
Salim ditunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri. Dengan badannya yang
kecil, di kalangan diplomatik Agus Salim dikenal dengan julukan The Grand
Old Man. Dia berpindah-pindah rumah kontrakan ketika di Surabaya, Yogyakarta,
dan Jakarta. Di rumah sederhana itulah dia menjadi pendidik bagi anak-anaknya.
Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun.
2.
Pemikiran Haji Agus Salim
Haji Agus Salim
menolak paham Kapitalis. Haji Agus Salim menawarkan sebuah alternatif bagi
persoalan ini yang diharapkan sebagai pengganti sistem tersebut, yakni dengan
sebuah sistem persaudaraan atau kebersamaan yang mengajarkan bahwa semua pihak
akan ikut menikmati kebahagiaan. Haji Agus Salim menegaskan bahwa tujuan Islam
adalah persamaan manusia, keadilan yang sempurna dan ikhtiar serta usaha
bersama untuk meraih kebajikan bersama. Dapat cermati pula bahwa sama rata dan
sama rasa menurut Haji Agus Salim adalah suatu konsep persamaan derajat dari
Tuhan, berbeda dengan sama rata-sama rasa yang digagas kaum komunis yang
atheis.
D.
Biografi dan Pemikiran Tjokroaminoto
1.
Biografi Tjokroaminoto
Ia di lahirkan
dengan nama Raden Mas Oemar Said Tjokroaminoto yang dikenal sebagai Haji Oemar
Said (HOS) Tjokroaminoto (lahir di ponorogo, 16 Agustus 1883). Terlahir dari
perpaduan keluarga priyayi yang religious. Tjokroaminoto adalah anak kedua dari
12 bersaudara. Kakeknya, RM Adipati Tjokronegoro adalah seorang bupati di
ponorogo, jawa timur, sedangkan ayahnya, Raden Mas Tjokroamiseno adalah wedana
distrik kleco, madiun. Ia secara formal tak pernah nyantri, sekolah ditempuhnya
dengan system pendidikan barat. Karena itu, ia menguasai bahasa inggris dan
belanda. Pendidikan
dasarnya ditempuh di madiun, disekolah belanda. Kemudian pendidikan lanjutnya
ia tempuh di OSVIA (opleiding school voor inlandsche ambtenaren “sekolah
pendidikan untuk pegawai pribumi”) di magelang (1902). Sambil bekerja,
Tjokroaminoto masih menyempatkan diri untuk mengikuti sekolah lanjutan di sore
hari, yaitu di BAS (Burgerlijke Avond School). Sesudah menyelesaikan
pendidikannya, HOS tjokroaminoto mendapat pekerjaan pada sebuah pabrik gula
(1907-1912) dan menulis di harian bintang surabaya. Selanjutnya ia bekerja pada
sebuah biro teknik disurabaya. Bergabungnya HOS Tjokroaminoto pada organisasi
sarekat islam. Dan peranan dia dalam menangani Sarekat Islam. Dapat disimpulkan
bahwasannya Tjokroaminoto sangat pandai dan lihai dalam berpidato, dan tidak
kalah hebatnya tulisannya juga sangat banyak dalam berbagai buku atau artikel,
salah satunya yaitu fadjar Asia, yang banyak memuat artikel-artikel
Tjokroaminoto. Adapun karya monumental Tjokroaminoto yang sampai masa tahun
1950 tidak dapat diubah adalah tafsir program asas dan program tandhim partai
syarikat islam Indonesia, diterbitkan oleh badan pekerja PSII (Partai sarekat
islam Indonesia) tahun 1954. Di dalamnya berisi tentang arah dan gerak perlawanan
partai, antara lain:
a.
bersandarkan kepada kebersihan tauhid,
b.
bersandar kepada ilmu, dan
c.
bersandarkan kepada siyasah (politik) yang berkaitan dengan bangsa,
tumpah darah, dan menyatukan negeri-negeri berpenduduk muslim (dikenal dengan
pan islamisme).
Tjokroaminoto,
singa podium itu, menghadap Ilahi pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta. Dan
dimakamkan di TMP Pekuncen Yogyakarta.
2.
Pemikiran HOS Tjokroaminoto
Berikut ini
akan kita lihat bingkai pemikiran ekonomi Tjokroaminoto yang dikemas dalam Dua
Prinsip Utama mengenai Konsep Ilmu Sosial Islam. Prinsip Pertama yaitu
Kedermawanan Islami. Menurut beliau kedermawanan bukanlah melakukan sedekah
sebagai kebajikan semata, tetapi sedekah adalah kewajiban untuk meraih cinta
Allah. Kedua, zakat sebagai dasar bagi distribusi dan pemerataan kekayaan untuk
seluruh masyarakat. Ketiga, kemiskinan dunia bukanlah kehinaan, tetapi
kejahatan dunia adalah kehinaan. Prinsip kedua yaitu Persaudaraan Islam.
Persaudaran Islam menurut beliau harus dibangun bukan berdasarkan pada suku,
warna kulit, ras, kekayaan atau lainnya, tetapi berdasar pada ketakwaan. Dua
Prinsip Utama di atas hanya dapat dijalankan, seperti dijelaskan dalam buku
beliau, dengan cara sinergi antara realitas sosial ekonomi masyarakat merujuk
pada sirah dan jejak Muhammad saw.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesipulan dalam
penyampaian akalah kami adalah: Hal ini ditandai semakin meningkatnya kesadaran
masyarakat terhadap perilaku konsumsi yang Islami, tingkat kedermawanan yang
semakin meningkat ditandai oleh meningkatnya dana zakat, infaq, waqaf, dan
sedekah yang berhasil dihimpun oleh badan dan lembaga pengelola dana-dana
tersebut.
Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia tidak
terlepas dari beberapa faktor pendorong. Secara sederhana, faktor-faktor itu
dkelompokkan menjadi faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal adalah penyebab yang datang
dari luar negeri, berupa perkembangan ekonomi syariah di negara-negara lain,
baik yang berpenduduk mayoritas Muslim maupun tidak. Sedangkan faktor internal antara lain adalah
kenyataan bahwa Indonesia ditakdirkan menjadi negara dengan jumlah penduduk
Muslim terbesar di dunia.
Dalam pandangan
Hatta, alam semesta ini bukanlah milik manusia, tetapi milik absolut Tuhan.
Manusia sebagai khalifahnya hanya
dititipi dan diberi amanat untuk mengelola dan mengambil manfaat darinya.
Pemikiran ekonomi Hatta itu jika dilihat dari perspektif Islam secara substansial jelas dapat
dikatakan paralel dan kompatibel dengan ajaran Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar